Learning
To Know
Tahapan awal untuk menciptakan
pendidikan yang baik dan berkualitas adalah dengan mengetahui, memahami dan
menerapkan pilar-pilar dalam pendidikan, dan learning to know atau belajar
untuk mengetahui adalah pilar utama dalam sebuah pendidikan yang mempunyai
nilai-nilai dan keyakinan yang menjadikannya sebuah kunci dalam suatu
pendidikan.
A.
Perspektif
seorang guru, siswa, dan masyarakat dalam belajar mengetahui learning to know).
Perspektif seorang guru
yang memiliki fokus mengajar daripada belajar pasti akan berpendapat bahwa:
1.
Beberapa
siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, sedangkan sebagian dari mereka
tidak bisa
2.
“siswa ini
tidak harus hadir dalam perkuliahan saya”
dalam hal ini, guru membebaskan muridnya untuk mengikuti ataupun tidak
mengikuti dalam proses pembelajarannya, karena guru telah mengetahui potensi
siswa tersebut.
3.
“jika siswa
tidak belajar dengan baik, hal itu dikarenakan mereka tidak berusaha cukup
keras”
Prespektif
seorang siswa sebagai objek dalam pembelajaran:
1.
“Aku tidak
pandai” dalam hal ini berarti seorang siswa memahami potensi atau kemampuannya
dalam belajar
2.
“Ada
beberapa orang di dunia ini yang di lahirkan sebagai anak yang cerdas, tetapi
yang lain tidak, dan ada sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang
saja, sedangkan yang lainnya tidak mampu melakukan hal tersebut.
3.
‘Ada
beberapa siswa yang berkarir sesuai potensi dan bakat mereka, tetapi beberapa
diantaranya hanya mengikuti panggilan atau peluang yang ada.
Perspektif
masyarakat sebagai faktor pendukung dalam pembelajaran:
1. Masyarakat berpandanagan bahwa seorang
siswa dinyatakan sukses dsalam sebuah proses pembelajaran, bilamana siswa
tersebut dapat meraih prestasi akademik atau nilai yang tinggi secara formal.
B.
Pembelajaran
tranformatif dan pedagogik
Pedagogik
transformatif merupakan perkembangan dari paradigma konservatif atau
postmodernisme dan paradigma liberal.
Adapun
landasan yang diterapkan dalam pedagogik transformatif adalah tujuan pendidikan
adalah memanusiakan manusia.
1.
pendidikan
harus sesuai dengan konteks (kontekstual) yang ada di masyarakat sebagi
lingkungan tempat hidup siswa.
2.
pengakuan
individual bahwa peserta didik memiliki karakteristik gaya belajar, minat, dan
potensi yang dapat berkembang.
3.
partisipasi
yang menunjukkan manusia (peserta didik) yang telah mampu meraih kesuksesan
yang lebih baik harus berpartisipasi sebagai penggerak perubahan bagi
masyarakat.
Faktor-faktor yang mendorong pemaknaan, pembelajaran transformatif:
1. Motivasi
intrinsik
- Tujuan belajar
- Relevansi dengan kehiudupan
- Tantangan
- Rasa ingin tahu
- Tujuan belajar
- Relevansi dengan kehiudupan
- Tantangan
- Rasa ingin tahu
2. Pengalaman langsung
- Aplikasi praktis
- Pengalaman perwakilan, simulasi, bermain peran
- Aplikasi praktis
- Pengalaman perwakilan, simulasi, bermain peran
3. Krisis / bencana
4.
4.
Berbagi, harus
mengajar orang lain, dialog
5. Semangat
guru dalam mengajar
6. Strategi belajar yang terhubung pada pengalaman pribadi
7. Strategi belajar yang
merangsang emosi kemauan
8. Strategi belajar yang terhubung dengankeyakinan
Learning to Do
Proses
pembelajaran dalam konsep learning to do
adalah peserta didik harus mau dan mampu (berani) mengaktualisasi
keterampilan yang dimilikinya, selain bakat dan minat yang telah dimiliki sejak
awal. Sekolah
adalah salah satu fasilitas untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki
peserta didik agar dapat terealisasikan
1Hal-hal
terkait Learning to Do
- Human Dignity and The Dignity of Labour (Martabat Manusia dan Martabat Tenaga Kerja)
- Health and Harmony with Nature(Kesehatan dan Keharmonisan dengan Alam)
- Ttruth and Wisdom(Kebenaran dan Kebijaksanaan)
- Love and Compassion(Cinta dan Kasih Sayang)
- Creativity(Kreativitas)
- Peace and Justice(Perdamaian dan Keadilan)
- Sustainable Development(Pembangunan Berkelanjutan)
- National Unity and Global Solidarity (Persatuan dan Solidaritas Nasional)
- Global Spiritual(Spiritual Global)
.
Learning to be
Learning to be mengandung arti bahwa
belajar adalah proses untuk membentuk manusia yang memiliki jati dirinya
sendiri.APNIEVE mendefinisikan belajar didasarkan pada
filsafat humanistik pendidikan yang bertujuan untuk
mengembangkan manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat.Menurut Edgar
Faure dalam laporannya . .
“ manusia itu
hakikatnya tidak lengkap, terbagi-bagi, dan belum selesai “. Artinya bahwa
pendidikan harus diarahkan untuk pengembangan manusia seutuhnya mulai dari
aspek fisik, intelektual, emosional, dan etika.
Dalam
laporannya juga, dia merangkum tujuan universal pendidikan..
Yaitu:
1. Pendidikan
bertujuan untuk memberikan penguasaan pegetahuan/wawasan dan teknologi. Sebab
wawasan yang luas, penguasaan teknologi, dan keterampilan bahasa sangat
dibutuhkan saat ini
2. Pendidikan
bertujuan untuk membentuk kreatifitas, berarti melestarikan orisinalitas
masing-masing individu.
3. Pendidikan
bertujuan untuk mempersiapkan individu untuk hidup di masyarakat. Dan bergerak
sebagai individu yang mempunyai moral dan intelektual serta mampu mengubah
kehidupan masyarakat kearah yang lebih baik
4. Pendidikan
bertujuan untuk menjadikan manusia menuju manusia seutuhnya yang mengutamakan
kepribadian sebagai tujuan untuk mengembangkan dirinya sendiri serta orang
lain. Dan juga mampu menyeimbangkan antara intelektual, etika, dan emosional.
Nilai inti,
belajar untuk menjadi manusia seutuhnya
DIMENSI
MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU
DAN SEBGAI ANGGOTA MASYARAKAT
DAN SEBGAI ANGGOTA MASYARAKAT
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pendidikan menurut Djamal
(2007:101) yaitu:
1.
Motivasi
2.
Sikap
3.
Minat
4.
Kebiasaan belajar
5.
Konsep diri
“Learning To Live
Together”
Learning to live
together dalam bahasa Indonesia artinya belajar untuk bisa hidup bersama ,
maksudnya yaitu dengan terus belajar kita akan terus mendapatkan wawasan yang
baru mengenai sesuatu hal kita tidak ketahui sebelummnya.
1. Cara Mencapai Kehidupan
Bersama
Dalam mencapai
kehidupan bersama diperlukan usaha-usaha, cara-cara dan kunci-kunci yang lebih
menonjolkan sifat kebersamaan atau rasa kepedulian social yang tinggi. Dan untuk memasuki
abad baru atau dunia “kita” bersama-sama maka memerlukan kunci di bawah ini,
yaitu :
a.
Memahami diri sendiri, satu sama lain dan dunia
b.
Menggunakan teknologi baru secara kritis
c.
Mencari tempat kita di masyarakat
d.
Membangun dunia lebih layak dan lebih adil
Dan dalam mencapai
keberhasilan yang diinginkan, yaitu dapat hidup bersama tanpa adanya rasa
keberatan atau ketidaknyamanan pada diri sendiri pastilah terdapat masalah-masalah
demi terciptanya kehidupan bersama tersebut, dan amsala-masalah itu di antaranya
:
a.
Menemukan orang lain dengan menemukan diri sendiri
b.
Mengadopsi perspektif kelomppok etnis, agama dan
social lainnya
c.
Berpartisipasi dalam proyek dengan orang-orang dari
kelompok
d.
Mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan ketegangan
dan konflik.
2. Institusi Pendidikan Masyarakat
Institusi pendidikan
masyarakat adalah suatu lembaga pendidikan, yang berguna sebagai fasilitator
dari masyarakat suatu daerah atau suatu wilayah, yang tentunya bertujuan untuk
memfasilitasi pembelajaran.
Dan di dalam
institusi pendidikan masyarakat terdapat tiga tingkatan pendidikan, yaitu
Pendidikan Dasar, Pendidikan Menegah dan Pendidikan Tinggi.
a.
Pendidikan dasar : Sebuah Paspor untuk Hidup
-
Menanggapi kebutuhan umum dari populasi keseluruhan,
anak-anak dan orang dewasa
- Menempa sikap terhadap pembelajaran yang akan
berlangsung sepajang hidup
b.
Pendidikan Menengah : Sebuah Persimpangan dari Kehidupan
-
Memungkinkan bakat untuk diungkapkan dan berkembang
-
Mendukung pemuda dalam pilihan mereka orientasi
professional
c.
Pendidikan Tinggi : Sebuah tempat untuk Warisan Umum Pengetahuan
-
Persiapan untuk penelitian dan pengajaran
-
Menawarkan pelatihan yang sangat khusus disesuaikan
dengan kebutuhan kehidupan social dan ekonomi
3. Kontribusi Pendidikan
Non-Formal
Pada praktik
pendidikan non-formal menyangkut sekelompok organisasi dan departemen yang
intervensi pada isu-isu seperti : lingkungan, kesehatan, pekerjaan, status
perempuan, budaya, pariwisata, perencanaan kota, pertanian dll. Komisi Delors
menyoroti kebutuhan untuk tempat-tempat yang mendukung pembelajaran non-formal
sepanjang hidup. Tempat-tempat yang diperlukan untuk memungkinkan berkembang
dan keragaman bakat individu. Mereka berkontribusi terhdap penemuan solidaritas
dan kewarganegaraan. Saling ketergantungan dari sector formal-nonformal harus
diakui dan langsung hubungan didorong oleh komisi Delors untuk mendukung
belajar seumur hidup.
4.
Globalization of Problem and Solution
Globalisasi dapat menjadi sebuah
masalah dan adapat juga menjadi sebuah pemecah masalah. Dan itu mungkin sudah
menjadi sebuah hokum alam atas lahiranya sesuatu, yaitu apabila sesuatu yang
baru itu lahir maka akan dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan juga dapat
dimanfaatkan untuk keburukan.